PANCASILA


AKSELERASI PEMBANGUNAN YANG BERLANDASKAN FILSAFATI PANCASILA

Pengetahuan, Ilmu Empiris dan filsafat
Manusia adalah makhluk berfikir yang menghasilkan pengetahuan secara spontan maupun sistematis-reflektif. Pengetauhuan spontan diperoleh manusia secara langsung berdasarkan hasil tangkapan inderawi yang bersifat terikat oleh perubahan ruang dan waktu. Reflektif berarti pengetahuan yang berdasarkan pada metode-metode, abstrak, menggali, menghubungkan dan memaknai. Pengetahuan reflektif ada beberapa macam yaitu ilmu empiris, filsafat, ilmu agama, teknologi dan seni. Ilmu empiris memfokuskan diri pada gejala-gejala alam dan sosial secara mendalam namun bersifat spesifik, contohnya tindakan korupsi.
Kajian ilmiah Pancasila terdapat tiga kelompok ilmu yaitu:
1. Ilmu Alam (Natural Science)
Bersifat tetap, posivistic, tidak melibatkan persaan, dan berdasrkan eksperiman atau berdasarkan hasil labolatorium. Natural science bersifat kuantitatif sehingga berdasarkan hitung.
2. Ilmu Sosial (Social Science)
Social science bersifat tidak tetap, fenomenologi, didasarkan pada observasi di lapangan. Sosial science bersifat kualitatif dan deskriptif.
3. Ilmu Kemanusian (The Humanities)
Kajian ilmiah tersebut mempunyai ciri-ciri/karakteristik dan metodologi tersendiri untuk menemukan dan mengungkapkan pengetahuan baik yang menyangkut alam, manusia, dan Tuhan.
Pancasila sebagai pengetahuan ilmiah filosofi yang dapat dipahami dari sisi verbalis, konotatif, dan denotatif. Pengetahuan verbalis dimaksudkan upaya memahami pancasila dari aspek rangkaian kata-kata yang diucapkan, contoh upacara bendera. Pengetahuan konotatif dimaksudkan upaya memahami pancasila dengan menggunakan ratio. Pancasila dipahami, ditafsirkan dab dimaknai dengan menggunakan metode ilmiah.
Pemahaman denotasi terhadap pancasila berkaitan dengan fakta, realita yang menunjukan adanya perwujudan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan yang berupa perbuatan dan tindakan. Sisi verbalis dan sisi konotatif mempunyai hubungan langsung, artinya apa yang diucapkan dapat diinterpretasikan, dan dicari maknanya oleh setiap orang. Sisi verbalis dan denotatif tidak terhubung secara langsung, karena apa yang dikatakan tidak mesti langsung terwujud dalam kenyataan.

Kebenaran Ilmiah dalam Pancasila
Teori kebenaran ilmiah dalam pancasila ada empat macam yaitu:
1. Teori koherensi yaitu pernyataan yang satu dengan pernyataan yang lain saling berkaitan, konsisten, dan runtut (logis).
2. Kebenaran korespondensi yaitu adanya kesesuaian antara pernyataan dan kenyataan.
3. Kebenaran pragmatis yaitu bahwa pernyataan-pernyataan yang dibuat harus membawa kemanfaatan bagi sebagian besar umat manusia.
4. Kebenaran konsensus yaitu pada kesepatan bersama suatu pernyataan dikatakan benar apabila disepakati oleh masyarakat atau komunitas tertentu.

Ciri-ciri Berpikir Ilmiah-Filsafati dalam Pembahasan Pancasila
Ilmu pengetahuan merupakan kumpulan usaha untuk memahami kenyataan sejauh dapat dijangkau oleh daya pemikiran manusia berdasarkan pengalaman secara empirik dan reflektif. Syarat agar pengetahuan dapat dikatakan sebagai suatu ilmu atau syarat ilmiah menurut Poedjawijatna (Kaelan, 1998) antara lain:
1. Berobjek
Obyek adalah syarat pertama dalam kajian ilmiah. Objek dibedakan menjadi objek material dan objek formal. Objek material dalam membahas Pancasila sebagai kajian ilmiah dapat bersifat empiris maupun non-empiris. Objek material berupa pernyataan-pernyataan, pemikiran, ide/konsep,kenyataan sosio-kultural yang terwujud dalam hukum, teks sejarah, adat-istiadat, sistem nilai, karakter, kepribadian manusia/masyarakat Indonesia sejak dahulu hingga sekarang. Obyek formal dalam membahas Pancasila berupa perspektif ilmu-ilmu, misal: yuridis, poltik, sejarah filsafat, sosiologi dan antropologi maupun ekonomi.
2. Bermetode
Setiap ilmu harus memiliki metode, yaitu seperangkat cara atau sistem pendekatan dalam rangka pembahasan objek materialnya untuk mendapatkan kebenaran yang objektif. Metode-metode ilmiah yang digunakan untuk mengkaji Pancasila secara filosofis ada berbagai macam tergantung pada objek yang diselidiki atau dikaji. Misalnya, metode dalam sosiologi ada yang berupa survey dan ada yang bersifat grounded research (penelitian kualitatif di lapangan). Metode dalam ilmu ekonomi lebih bersifat aplikasi dari matematika.
Metode dalam ilmu hukum antara lain metode Interpretasi. Dalam mengkaji Pancasila, metode ilmu sejarah yang digunakan seperti kritik naskah dan interpretasi (hermeneutik). Secara filosofis digunakan metode analisis-sintesis menguraikan dan memerinci pernyatan-pernyataan sehingga jelas makna yang terkandung di dalamnya untuk disimpulkan (sintesis) menjadi suatu pengetahuan yang baru. Metode Induksi adalah metode berpikir yang dimulai dari hal-hal, kejadian atau peristiwa yang bersifat khusus, dan berulang-ulang untuk kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat umum.
Metode Deduksi adalah metode berpikir yang bertitik tolak dari hal-hal atau pernyataan yang bersifat umum untuk ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Metode Hermeneutika adalah metode menafsirkan. Objek materialnya adalah pernyataan-pernyataan, teks, dan simbol. Tujuan metode ini adalah untuk memperoleh makna yang terdalam (hakikat) dari hal yang ditafsirkan. Prinsip yang digunakan yaitu konteks dan isi teks. Contoh: menafsirkan Undang-undang Dasar 1945 (UUD 1945) berdasarkan konteksnya sehinga diketahui kebatinan dari UUD 1945, sedangkan dari isi teksnya maka dapat dipahami hakikat UUD yaitu hukum dasar tertulis dalam Pembukaanya merupakan pokok kaidah negara yang fundamental.
3. Bersistem
Bagian-bagian Pancasila harus saling berhubungan dan ketergantungan(interelasi dan interdepensi). Pemahaman Pancasila secara ilmiah harus merupakan satu kesatuan dan keutuhan, bahkan Pancasila itu sendiri pada dasarnya juga merupakan suatu kebulatan yang sistematis, logis, dan tidak ada pertentangan di dalam sila-silanya (Kaelan, 1998). Syarat bersistem yang yang dipenuhi oleh Pancasila menunjukkan bahwa Pancasila merupakan hasil pemikiran para pendahulu negara yang dirumuskan dengan kecermatan yang tinggi dan bersifat logis.
Sila-sila Pancasila tersusun secara logis sehingga membentuk suatu pemikiran yang sistematis. Notonegoro mengatakan bahwa sila-sila Pancasila tersusun secara hierarki peramidal dan bersifat majemuk-tunggal. Hierarki Piramidal maksudnya sila-sila Pancasila ditempatkan sesuai dengan luas cakupannya dan keberlakuan pengertian yang terkandung di dalam sila-silanya.
Sila pertama diletakkan pada urutan pertama, karena pengertian ketuhanan maknanya sangat luas dan menunjuk pada Tuhan sebagai Pencipta atau dalam istilah Aristoteles disebut sebagai Causa Prima (Penyebab Pertama). Kemanusiaan pada urutan kedua karena kemanusiaan bermakna luas tetapi jika dibandingkan dengan konsep ketuhanan lebih sempit cakupannya. Inti sila ketiga adalah persatuan, pengertiannya lebih sempit dari sila pertama dan kedua, karena persatuan menunjukkan adanya kelompok-kelompok manusia sebagai makhluk sosial (zoon politicon). Sila keempat adalah kerakyatan, yaitu semua manusia yang bersatu memerlukan sistem pengelolaan hidup bersama dengan adanya kedaulatan. Inti sila kelima yaitu keadilan, merupakan realisasi dari eksistensi manusia yang hidup berkelompok dalam suatu negara.
4. Universal
Kebenaran suatu pengetahuan ilmiah bersifat universal atau kebenarannya tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Kajian terhadap pancasila mengungkapkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila bersifat universal karena dapat dipahami oleh semua masyarakat dunia, namun terdapat perbedaan dalam penggunaan kata. Kata ketuhanan hampir sama dengan religiusitas, kemanusiaan sama dengan humanisme, persatuan sama dengan demokrasi, kerakyatan dengan demokrasi, dan keadilan dengan kesejahteraan. Arti universal tidak sama dengan absolut. Pancasila mempunyai nilai-nilai yang berlaku hanya untuk rakyat Indonesia yang berbentuk Undang-undang Dasar 1945.

Bentuk Dan Susunan Pancasila
1. Bentuk Pancasila
Bentuk pancasila di dlamam pengertian ini diartikan sebagainrumusan pancasila sebagaimana tercantum dalam alinea IV pembukaan UUD 1945. Pancasila sebagai suatu system nilai mempunyai bentuk yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
a. Merupakan kesatuan yang utuh
Hubungan setiap sila saling berkaiatan dan semua unsur dalam Pancasila menyusun suatu keberadaan semua unsur. Masing-masing sila membentuk pengertian yang baru. Kelima sila tidak dapat dilepas satu dengan lainnya. Walaupun masing-masing berdiri sendiri tetapi hubungan antar sila merupakan hubungan yang berorganis.
b. Setiap unsur bukan pelengkap
Setiap unsur pembentuk pancasila merupakan unsur mutlak yang merupakan kesatuan, bukan unsur komplementer, artinya salah sila tidak bisa dihilangkan. Walaupun sila ketuhanan merupakan sila yang berkaitan dengan Tuhan sabagai causa prima, tetapi tidak berarti sila lainnya sebagai pelengkap.
c. Sebagai satu kesatuan yang mutlak
Pancasila tidak dapat ditambah atau dikurangi. Bentuk pancasila sampai kapanpun sudah mutlak dan tidak dapat diubah lagi.
2. Susunan Pancasila
Menurut Notonagoro, susunan Pancasila ada tiga bentuk yaitu :
a. Hirarki piramidal
Pancasila sebagai suatu sistem nilai disusun berdasarkaan urutan logis keberadaan unsur-unsurnya. Oleh karena itu, sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) ditempatkan pada urutan yang paling bawah, karena sila pertama menjadi dasar dari sila yang lainnya.karena bangsa Indonesia meyakini segala sesuatu itu berasal dari Tuhan dan akan kembali kepadaNya. Sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab ditempatkan setelah ketuhanan, karena yang akan mencapai tujuan yang dicita-citakan. Setelah prinsip kemanusiaan dijadikan landasan, maka untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan manusia perlu bersatu untuk membentuk masyarakat (Negara), sehingga perlu adanya persatuan (sila ketiga). Persatuan dan nasionalisme Indonesia terbentuk bukan atas dasar persamaan suku bangsa, agama, bahasa, tetapi dilatarbelakangi oleh historis dan etis. Sila keempat merupakan cara-cara yang harus ditempuh ketika suatu Negara akan mengambil suatu kebijakan. Sila kelima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia ditempatkan pada sila terakhir, karena sila ini merupakan tujuan dari Negara Indonesia yang merdeka.
b. Majemuk tunggal
Majemuk tunggal artinya Pancasila terdiri dari lima sila tetapi merupakan satu kesatuan yang berdiri sendiri secara utuh.
c. Saling mengkualifikasi
Hal ini berarti bahwa antara sila yang satu dengan yang lain saling memberi kualitas. Apabila sila pertama dilengkapi dengan sila berikutnya mempunyai makna yang berkaitan.
Contoh: Ketuhanan Yang Maha Esa yang berkemanusiaan yang beradil dan beradab yang berkesatuan Indonesia yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Refleksi Terhadap Kajian Ilmiah Tentang Pancasila di Era Globalisasi
Kajian ilmiah tentang pancasila sejak disahkan tanggal 18 Agustus 1945 sampai saat ini mengalami pasang surut. Notonagoro, driarkarya merupakan pelopor pengkajian pancasila secara ilmiah popular dan filosofis. Pemikiran tersebut masih memungkinkan adanya diaolog dan kajian kritis terhadap Pancasila dengan interpretasi baru untuk memperoleh makna dari setiap sila-sila Pancasila. Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia sebaiknya lebih terbuka terhadap ide-ide baru dan kreatif untuk merevitalisasi pancasila dalam kehidupan nyata.
Era globalisasi banyak mempengaruhi ideologi masyarakat Indonesia karena nilai-nilai dan ideologi asing lebih mudah untuk diterima oleh masyarakat Indonesia, bahkan paham materialisme, hedonisme, dan konsumerisme dijadikan sebagai pandangan hidup mereka. Materialisme adalah suatu sikap hidup yang selalu di dasarkan pada materi atau benda-benda sehingga mengabaikan kemampuan dalam bekerja dan nilai-nilai kemanusiaan. Hedonisme adalah suatu paham atau sikap hidup yang lebih mementingkan urusan duniawi yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup secara fisik. Konsumerisme adalah suatu sikap hidup yang lebih senang berposisi sebagai konsumen daripada produsen, sehingga lebih cenderung mempunyai sifat konsumtif.
Dengan adanya masalah tersebut sangat diperlukan sebuah kajian kritis terhadap pancasila sebagai falsafah dan ideologi masyarakat Indonesia. Dengan memahami penjelasan tersebut diharapkan masyarakat Indonesia semakin kritis dalam menentukan pilihan-pilihan, sikap, dan gaya hidup yang selaras dengan nilai-nilai pancasila. Sehingga masyarakat indonesia tidak terombang-ambing dalam mengikuti arus globalisasi, maka memiliki prinsip-prinsip hidup yang kokoh , orientasi hidup yang jelas dalam bersikap dan berperilaku.

DAFTAR PUSTAKA

Kaelan. (2008). Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Paradigma.
Purwastuti, L. A. (2002). Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: Uny Press.
Rukiyati. (2008). Pendidikan Pancasila. Yogyakarta: UNY Press.

About indri_irmy

wants to be a good elementary teacher

Posted on Desember 30, 2011, in knowledge. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: